Slideshow Image 1 Slideshow Image 2 Slideshow Image 3 Slideshow Image 4 Slideshow Image 5
13
Jun

Please Don't Say A WordIn Indonesia, Pay TV providers start to flourish.  Each provider offers variety of channels that enables viewers to have huge choice – it is Pay TV’s USP (Unique Selling Points) compared to FTA (Free To Air). Besides that, Pay TV has sharper on-screen image compared to FTA because of the home antenna.  Pay TV also accommodates needs of certain viewers on foreign content.

Each Pay TV providers offers attractive package to ‘lure’ potential customers, which results on price war. At the end, as in other free market competition, customers choose Pay TV provider that best suit their need at the lowest price. That is what we call ‘Free Market Competition’ in Economics Law (Price War, Benefits War and Services War).

Can Pay TV become a lifestyle? – This is an interesting question, isn’t it? Read the rest of this entry »

13
Jun

Please Don't Say A WordTRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Greenpeace mengumumkan hasil investigasi yang mengejutkan. Barbie, boneka mainan paling terkenal di dunia, terbukti terkait dengan perusakan hutan hujan. Kemasan yang digunakan oleh boneka ini ternyata menggunakan bahan baku yang berasal dari hutan Indonesia yang menjadi rumah dari spesies langka seperti Harimau Sumatra.

Menggunakan uji forensik, para peneliti Greenpeace menemukan bahwa kemasan Barbie berasal dari perusakan hutan Indonesia. Selain uji forensik, peneliti Greenpeace juga melakukan investigasi lapangan langsung, pemetaan data dan menelusuri sertifikat perusahaan untuk menguatkan bukti bahwa Mattel, pembuat Barbie, juga perusahaan-perusahaan mainan besar lain termasuk Disney, menggunakan kemasan yang diproduksi oleh Asia Pulp and Paper (APP).
Read the rest of this entry »

13
Jun

Please Don't Say A WordJika ada orang yang mengatakan bahwa akhir dunia akan datang hari ini maka aku adalah orang yang paling sepakat dengannya. Bagaimana tidak? Hari ini Takeda-san akan mengajak teman dekatnya itu ke kantor proyek. “Mau lunch bareng sekaligus dikenalin ke orang-orang proyek”. Kira-kira demikianlah yang dikatakan oleh Mariska kemarin siang kepada aku dan Ferry. Aku yang merahasiakan kepergian kami berdua untuk mencari souvenir buat kekasihnya itu tentu saja kaget mendengarnya. “Well namanya juga calon istri pasti harus tahu dong lakinya kerja apa and dengan siapa aja”, tukas Amy sambil melirikku judes. Aku membalas lirikannya dengan tatapan bingung. Apa sih maksudnya ngomong kayak gitu sambil ngelirik gue?, pikirku tidak senang. Ferry yang memahami ketegangan antara Amy dan aku langsung bertindak untuk mencairkan suasana. Read the rest of this entry »

06
Jan

Please Don't Say A Word“Meggy-san!”, teguran Takeda-san membuyarkan lamunanku malam itu di salah satu galeri batik terbaik di Jakarta. Aku berjalan menghampiri Takeda-san yang sedang asik mengamat-amati beberapa pasang syal yang digelar dengan apik diatas meja counter. “What do you think? This one, this one or this one?”, tanyanya sambil menunjuk tiga pasang syal yang masing-masing berbeda warna dan corak. Aku menatapnya sejenak lalu bertanya, “Tell me about your friend”. Takeda-san mengangguk kecil lalu menjawab, “One hundred sixty seven centimeter height, short hair, thirty two years old and very quiet”. Aku menatapnya kembali lalu mengajukan pertanyaan berikutnya, “Any preferred color?”. Takeda-san menggeleng sejenak lalu tiba-tiba menepuk kepalanya. Read the rest of this entry »

12
Dec

Please Don't Say A WordDuile cerah amat pagi-pagi, mpok?”, sapa Ferry saat memasuki ruang kerja kami pagi itu. Aku yang sedang asik kerja sambil mendengarkan musik langsung menatapnya sambil kemudian melirik jam tangan. “You are ten minutes late!”, jawabku sok ketus. Ferry langsung menanggapi dengan tawa khas-nya (baca: terbahak-bahak). Aku mendelik ke arahnya namun tak ayal akhirnya ikut tertawa juga. “Judes deh lu kalo lagi sok marah-marah gitu!”, ucap Ferry setelah berhasil meredakan tawanya. Ferry segera meletakkan barang-barang bawaannya dan kemudian berjalan menuju pintu keluar. “Udah ngopi Meg?”, tanya Ferry sambil mencuri pandang ke atas meja kerjaku. Aku menggeleng. “Mau gue bikinin sekalian enggak?”, tanya Ferry lagi. Aku berpikir sebentar kemudian mengangguk. “Hai!”, sahutku. Ferry tertawa lagi. “Ampun deh lu, Meg…baru juga berapa minggu kerja sama Jepang udah pake hai segala”, sahut Ferry sambil melangkah keluar dari ruangan.
Read the rest of this entry »

23
Nov

Please Don't Say A WordHi! Just the two of you?”. Sebuah suara laki-laki yang riang dan berat mengejutkanku dan Ferry yang sedang asik bekerja di depan laptop kami masing-masing sore itu. Kami berdua serentak mendongak dan menatap si pemilik suara. “Hi! Yes it’s just the two of us now. Mr. Ono was already left for a meeting and won’t be back this afternoon”, jelas Ferry sambil tersenyum yang langsung disambut dengan anggukan kepala Takeda-san. “Okay then. Good bye”, jawab Takeda-san sambil tersenyum ke arahku lalu menutup pintu ruangan kami. Jantungku langsung mencelot ke bawah. Ferry langsung menoleh ke arahku dan tertawa menggoda. “Meg! Baru aja kita omongin si Takeda…eh dia muncul dengan manisnya”, ucap Ferry sambil tersenyum lebar. “Meg? Lu enggak deg-degan kan? Kok jadi pucet gitu sih?”, goda Ferry sambil tertawa. Aku tahu meski aku tidak bisa melihat wajahku tapi pasti warnanya sudah me-ji-ku-hi-bi-ni-u!
Read the rest of this entry »

23
Nov

When Will I See You AgainWhen will I see you again?

When will we share precious moments?

Will I have to wait forever?

Will I have to suffer and cry the whole night through?

(The Three Degrees – When Will I See You Again)

Untuk kalian yang lahir pada dan setelah era 1980-an, mungkin syair lagu ini tidak terasa akrab di telinga dan hati kalian, namun bagiku lagu ini meninggalkan kesan yang sangat mendalam. Bukan hanya karena aku lahir sebelum kalian, tetapi juga karena lagu ini mempunyai nilai historis dan mampu membawaku pada memori manis masa kecilku bersama kedua kakak perempuanku, Elen dan Bels.
Read the rest of this entry »

25
Oct

CompartmentalizeJust got a ‘tough’ day again…. My kid was sick but I have to finish something in the office…  Even though at the end of the day I can everything in order, I had a hard time in the office, and also home. I took my son first to the doctor, then left him home to finish my work. When I was at the hospital, my mind was already in the office, but when I got to my desk in the office, my mind was already home. It was really driving me nuts when my body and mind were not in the same place.

My friends told me that I have to learn how to separate my many parts of lives. When I heard it the first time, I feel that my friend told me to get schizophrenic :) , but actually what they told me was totally true. It was nerve breaking to think about my son who was lying sick at home while I was trying to finish my report. I have to force myself to ‘close’ my ‘home’ compartment and focus into my ‘work’ compartment. I was really difficult at first, but it keeps me sane. It’s not that I’m forgetting my son, it’s just I’m trying to do my responsibility one at the time. I’m sure that I already left my son with my confidante with proper medicine and food, then I can went on to my next assignment: my work.
Read the rest of this entry »

25
Oct

Perbedaan“Ti, nanti malam ada acara enggak? kita-kita mau nengokin si San San. Bokapnya meninggal dan sekarang disemayamkan di RSPAD. Kalau bisa ikutan ya Ti. Sekalian temu kangen. See you!”. Kubaca ulang pesan singkat yang dikirimkan oleh Daisy, sahabatku semasa kuliah S1 dulu. Papanya San San meninggal? Sakit apa ya? Dan ternyata aku tidak membutuhkan waktu lama untuk mengetahui alasannya…

“Ti, udah tahu belum kalo bokapnya San San meninggal? Beliau dirampok dan ditusuk berulang-ulang di rumahnya. Semua uang dan perhiasan yang ada di rumah habis dikuras penjahatnya. Sekarang kasusnya lagi ditangani polsek Matraman”, tulis temanku Aryo di inbox email-ku beberapa jam setelah itu.  Aku hanya bisa menarik napas panjang. Ini bukan kali pertama aku mendapat kabar tentang meninggalnya orang tua sahabat atau temanku yang berasal dari etnis Tionghoa. Kalau meninggal karena sakit, yah oke lah…semua orang bisa sakit dan semua orang pasti meninggal. Yang muda saja bisa, apalagi yang sudah lanjut usia. Tapi masalahnya kebanyakan dari mereka meninggal karena dibunuh! Benar-benar menyedihkan…
Read the rest of this entry »

13
Oct

TrafficPernah enggak sih kalian merasakan kejenuhan yang sedemikian tingginya hingga kalian merasa seolah-olah akan segera meledak? Aku pernah…sering malah! Dan parahnya itu bisa terjadi berulang-ulang dalam kurun waktu kurang dari satu bulan.

Sebut saja kejenuhan dalam bekerja, baik itu menulis maupun menyiapkan materi siaran. Jangan dikira bahwa pekerjaan paruh waktu itu enggak bikin jenuh. Mungkin kejenuhannya beda dengan pekerjaan yang jenisnya full time alias “8 to 5” atau “9 to 6”, tapi tetap saja mengerjakan dua jenis pekerjaan berbeda dalam satu waktu yang bersamaan cukup membuat isi kepalaku terudak-udak dan akhirnya nyaris meledak!

Deadline adalah sebuah kata yang mematikan bagi seorang penulis. Secanggih apapun ide di dalam kepala kita, seromantis apapun suasana dalam hati kita, begitu mendengar kata “deadline” semuanya seolah terhempas blas! Ide yang tadinya sebesar buah kelapa mendadak ciut sebesar buah duku…suasana hati yang awalnya merah merona mendadak sirna digantikan warna kelabu…tapi apa mau dikata jika deadline merupakan pembuktian deliverability seorang penulis?
Read the rest of this entry »