Jun
In Indonesia, Pay TV providers start to flourish. Each provider offers variety of channels that enables viewers to have huge choice – it is Pay TV’s USP (Unique Selling Points) compared to FTA (Free To Air). Besides that, Pay TV has sharper on-screen image compared to FTA because of the home antenna. Pay TV also accommodates needs of certain viewers on foreign content.
Each Pay TV providers offers attractive package to ‘lure’ potential customers, which results on price war. At the end, as in other free market competition, customers choose Pay TV provider that best suit their need at the lowest price. That is what we call ‘Free Market Competition’ in Economics Law (Price War, Benefits War and Services War).
Can Pay TV become a lifestyle? – This is an interesting question, isn’t it? Read the rest of this entry »





TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Greenpeace mengumumkan hasil investigasi yang mengejutkan. Barbie, boneka mainan paling terkenal di dunia, terbukti terkait dengan perusakan hutan hujan. Kemasan yang digunakan oleh boneka ini ternyata menggunakan bahan baku yang berasal dari hutan Indonesia yang menjadi rumah dari spesies langka seperti Harimau Sumatra.
Jika ada orang yang mengatakan bahwa akhir dunia akan datang hari ini maka aku adalah orang yang paling sepakat dengannya. Bagaimana tidak? Hari ini Takeda-san akan mengajak teman dekatnya itu ke kantor proyek. “Mau lunch bareng sekaligus dikenalin ke orang-orang proyek”. Kira-kira demikianlah yang dikatakan oleh Mariska kemarin siang kepada aku dan Ferry. Aku yang merahasiakan kepergian kami berdua untuk mencari souvenir buat kekasihnya itu tentu saja kaget mendengarnya. “Well namanya juga calon istri pasti harus tahu dong lakinya kerja apa and dengan siapa aja”, tukas Amy sambil melirikku judes. Aku membalas lirikannya dengan tatapan bingung. Apa sih maksudnya ngomong kayak gitu sambil ngelirik gue?, pikirku tidak senang. Ferry yang memahami ketegangan antara Amy dan aku langsung bertindak untuk mencairkan suasana.
“Hi! Just the two of you?”. Sebuah suara laki-laki yang riang dan berat mengejutkanku dan Ferry yang sedang asik bekerja di depan laptop kami masing-masing sore itu. Kami berdua serentak mendongak dan menatap si pemilik suara. “Hi! Yes it’s just the two of us now. Mr. Ono was already left for a meeting and won’t be back this afternoon”, jelas Ferry sambil tersenyum yang langsung disambut dengan anggukan kepala Takeda-san. “Okay then. Good bye”, jawab Takeda-san sambil tersenyum ke arahku lalu menutup pintu ruangan kami. Jantungku langsung mencelot ke bawah. Ferry langsung menoleh ke arahku dan tertawa menggoda. “Meg! Baru aja kita omongin si Takeda…eh dia muncul dengan manisnya”, ucap Ferry sambil tersenyum lebar. “Meg? Lu enggak deg-degan kan? Kok jadi pucet gitu sih?”, goda Ferry sambil tertawa. Aku tahu meski aku tidak bisa melihat wajahku tapi pasti warnanya sudah me-ji-ku-hi-bi-ni-u!
When will I see you again?
Just got a ‘tough’ day again…. My kid was sick but I have to finish something in the office… Even though at the end of the day I can everything in order, I had a hard time in the office, and also home. I took my son first to the doctor, then left him home to finish my work. When I was at the hospital, my mind was already in the office, but when I got to my desk in the office, my mind was already home. It was really driving me nuts when my body and mind were not in the same place.
“Ti, nanti malam ada acara enggak? kita-kita mau nengokin si San San. Bokapnya meninggal dan sekarang disemayamkan di RSPAD. Kalau bisa ikutan ya Ti. Sekalian temu kangen. See you!”. Kubaca ulang pesan singkat yang dikirimkan oleh Daisy, sahabatku semasa kuliah S1 dulu. Papanya San San meninggal? Sakit apa ya? Dan ternyata aku tidak membutuhkan waktu lama untuk mengetahui alasannya…
Pernah enggak sih kalian merasakan kejenuhan yang sedemikian tingginya hingga kalian merasa seolah-olah akan segera meledak? Aku pernah…sering malah! Dan parahnya itu bisa terjadi berulang-ulang dalam kurun waktu kurang dari satu bulan.